Suara Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Oleh:: Dewi Ayu Ningtyas, S.S.

Tegak berdiri di tengah bulan pahlawan
Menatap gedung-gedung tuan membara
Nyala api lantang bersuara
Merdeka!
Kepulan asap menyelimuti kota tercinta
Mengirim sisa asa pada Yang Maha Kuasa
Kini negeriku tak baik-baik saja
Kecewa
Amarah
Siapa lagi yang bisa dipercaya
286,7 juta rakyat sengsara
Buruh tani telanjang kaki di bawah terik surya
Katanya pendidik sebagai beban
Di sudut-sudut desa anak cacingan
Ibu bapak renta banting tulang
Para pemuda diliputi ketidakpastian tentang masa depan
Tak ada lagi pilihan
Hidup di negeri tercinta harus penuh perjuangan
Tak mampu lepas tangan apalagi cuci tangan
Kami adalah rakyat dengan cinta luar biasa untuk Indonesia
Tapi, kini negeriku tak baik-baik saja
Saat rakyat bersuara
Tuan bertamasya
Burung besi menembus batas negara
Melintasi luas samudera
Di mana nurani tuan berada?
Menumpuk harta benda dan tertawa ria
Saat rakyat kelaparan
Saat kemiskinan merajalela
Saat anak tak pandai membaca
Tuan enggan bersua
Bila mata masih terpejam
Telinga menjelma kedunguan
Dan mulut terkunci rapat
Lihatlah, kobaran api telah melahap istanamu tuan
Menyisakan puing-puing kecemasan
Berlumur abu debu menjejak kebingungan
Kemana tikus-tikus berlarian?
Sarang kekuasaan luluh lantak
Euforia tunjangan dalam bayang penghapusan
Kursi tahta dan karpet merah tak lagi ada
Jarah menjarah tak tertahan
Dipikul aneka benda
Dolar bercecer dari lantai dua
Di bawahnya ribuan tangan menengadah
Serakah!
Tuan dan penjarah bak saudara
Dan kami hanyalah penonton setia
Hingga hari terus berjalan
Ruas jalanan senyap
Halte, terminal, perkantoran cedera
Lantas siapa kan bertanggung jawab?
Gugur bunga kembali membayang
Dilindas jelas, bukan tertindas
Nyawa taruhannya
Kini negeriku tak baik-baik saja
Menatap masa depan bak mata berkunang-kunang
Semua penuh tanda tanya
Pada siapa bisa percaya?
Tuan hanya pembeli suara rakyat bukan pendengar
Di tiang tertinggi sang saka berkibar
Kemerdekaan tetaplah kemerdekan
Semestinya dirayakan
Hormat sejenak lalu mengheningkan cipta
Tak lupa merapal doa
Memandang cakrawala
Mengharap hikmah
Esok negeriku kan baik-baik saja
Sebab, aku garda terdepan
Pahlawan tanpa tanda jasa

Kota Angin, 31 Agustus 2025

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top