NYANYIAN MERDU PERSIA

NYANYIAN MERDU PERSIA

Karya: Aynindia Fury

Kata orang orang di desa, hutan Persia adalah teka teki yang dibungkus oleh kabut abadi. Mereka percaya orang yang masuk terlalu dalam akan lupa jalan pulang karena pohon pohon di sana begitu rapat, besar dan banyak. Tapi bagi Irhis, gadis berusia sekitar empat belas tahun yang suka akan kebebasan, hutan itu adalah pelarian paling jujur. 

Pagi itu, Irhis bersiap dan membawa tas kanvasnya yang berisi botol minum, buku gambar, dan pensil warna. 

“Rhis mau kemana lagi kamu?” Seru ibu dari dapur, suaranya bersaing dengan bunyi minyak panas dan ikan segar yang bergulat. 

“Aku cuma mau cari beberapa jenis daun buat tugas sekolah!” Jawab Irhis sambil mengikat sepatunya dengan kencang. 

Irhis melangkah keluar rumah dengan semangat yang membuncah. Udara pagi yang masih terasa segar, menyisakan titik embun yang bergelantungan di pucuk daun. Semakin dekat dengan Persia, suara gaduh desa perlahan memudar dan lenyap, digantikan dengan kedamaian dan ketenangan sang raksasa hijau. 

Begitu kakinya menginjak tanah Persia,  Irhis merasa seperti berpindah dunia. Pohon-pohon Mahoni yang tidak diketahui usianya berdiri gagah dan tegak, dahan-dahan  yang saling bersentuhan seolah sedang berpelukan melindungi rahasia di bawahnya. 

“Halo, Persia. Mari kita lihat apa yang kamu sembunyikan,” bisik Irhis

Terus berjalan menyusuri jalan setapak yang hampir hilang tertutup oleh semak liar. Tangannya sesekali menyentuh batang pohon yang kasar. Suasananya begitu sepi dan sunyi. Irhis tidak takut, bukankah sunyi memang sifat dari hutan?, sunyi bukanlah hal yang menyeramkan, melainkan pelukan tulus dari alam. 

Di tengah perjalanan, Irhis menemukan sebuah tempat yang belum pernah ia lihat. Sebuah lembah kecil yang dipenuhi oleh bunga-bunga liar berwarna biru pucat. Di tengah lembah itu, ada sebuah pohon besar yang tumbang, entah sudah berapa lama ia tumbang dan kini tertutup oleh lumut hijau yang tebal dan halus seperti beludru. 

Irhis kemudian duduk di atas pohon tumbang itu. Melamun memikirkan sesuatu,  muncul sebuah ide, lalu ia mengambil buku gambarnya. Mulai menggambar bentuk daun yang menurutnya unik di sekitar. Tiba-tiba, ia mendengar suara gemericik air yang seperti berbisik mengundang. Rasa penasaran merayap di benaknya. Ia mengikuti suatu itu, menyibak tanaman yang menjuntai bak tirai alam. 

Di balik tirai itu, Irhis menemukan sebuah mata air kecil yang sangat jernih. Airnya keluar dari sela-sela batu yang tertutup kristal mineral, berkilau seperti taburan berlian di bawah cahaya matahari. 

“Waahh…, indahnya,” gumam irhis takjub. 

Ia merendahkan tubuhnya dan berlutut di tepi mata air itu, meraup airnya dengan tangan. Rasanya sangat dingin, seolah air itu berasal langsung dari jantung bumi yang paling dalam. Saat ia sedang asyik memperhatikan pantulan wajahnya di air, Irhis melihat sesuatu di dasar mata air itu. Sebuah batu dengan bentuk bulat yang hampir sempurna dengan warna putih. 

Irhis yang melihat batu itu langsung memecah ketenangan air dan mengambil batunya. Saat ia memegangnya, ada sedikit rasa hangat yang menjalar ke telapak tangannya. Merasa senang karena mendapatkan hal yang tak terduga. 

“Batunya cakep ih,” gumamnya pelan. 

Baginya, ini bukan sekadar batu biasa. Ini adalah sebuah kenang- kenangan yang diberikan oleh alam karena ia pernah berani membelah hutan sejauh ini. 

Tak terasa, langit di atas Persia mulai berubah warna. Warna jingga yang hangat kini bercampur dengan lebam gelap yang mendominasi. Irhis tahu ia harus segera pulang sebelum kegelapan benar-benar menelannya bersama hutan ini. 

Perjalanan pulang terasa lebih menyenangkan. Meskipun perut kosong keroncongan, hatinya terasa penuh. Ia menyadari, petualangan  tidak harus tentang bertemu monster atau terjebak di tempat yang tidak diketahui. Terkadang, petualangan adalah tentang bagaimana kita belajar mencintai alam dan menemukan kedamaian dalam diri kita yang terkadang…diri kita juga tidak mengerti. 

Begitu sampai di perbatasan desa, lampu-lampu rumah mulai menyala, bersinar seperti kunang-kunang raksasa, Irhis mengangkat sudut bibirnya. Ia kembali ke dunianya yang biasa, tapi dengan perasaan yang luar biasa. 

“AKU PULAANG!!, ” seru Irhis saat membuka pintu rumah dengan gembira. 

Ibu melihat ke arahnya, melihat banyak noda tanah di celana Irhis dan batu putih yang digenggamnya begitu erat. 

“Kamu nemu apa lagi kali ini, Rhis? “

Irhis menunjukkan batu putih itu sembari tersenyum lebar. 

“Aku nemu bukti, bu. Kalau hutan Persia bukan tempat kelam kayak yang diomongin orang desa. Dia cuma tempat yang ingin berbagi tentang rahasianya. “

Malam itu, sebelum tidur. Irhis meletakkan batu putih di samping tempat tidurnya. Ia melamun, membayangkan ia kembali berlari di bawah naungan pohon-pohon raksasa, berdansa dengan angin, dan menjadi bagian dari nyanyian abadi Hutan Persia. 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top